KURISU NEWS – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah timur Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Selasa (27/1) siang. Peristiwa ini tercatat terjadi tepat pukul 13.15 WIB. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan analisis mendalam terkait fenomena tersebut.
Episenter gempa berada di koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur. Kedalaman hiposenter tercatat 11 kilometer, mengindikasikan karakteristik gempa dangkal. Berdasarkan analisis Badan Geologi, gempa ini diperkirakan berkaitan erat dengan aktivitas Sesar Opak.
Lembaga internasional melaporkan parameter berbeda untuk kejadian serupa. United States Geological Survey (USGS) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 5,7. Kedalaman gempa versi USGS adalah 127 kilometer. Sementara itu, Geo Forschungs Zentrum (GFZ) Jerman melaporkan magnitudo 5,73 pada kedalaman 125,4 kilometer.
Menurut Badan Geologi, lokasi episenter gempa berada di daratan. Kondisi morfologi wilayah tersebut bervariasi, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, hingga perbukitan dan pegunungan.
Litologi di area tersebut tersusun atas batuan sedimen, batuan gunung api, dan batuan karbonat berumur tersier. Selain itu, terdapat juga batuan gunung api kuarter yang membentuk struktur geologi setempat.
Badan Geologi menjelaskan, batuan yang telah mengalami pelapukan dan sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi. Kondisi geologi ini dapat membuat dampak getaran terasa lebih intens di permukaan.
Berdasarkan data kecepatan gelombang geser tanah (Vs30), wilayah sekitar episenter termasuk dalam Kelas Tanah C. Kategori ini menunjukkan tanah sangat padat dan batuan lunak. Sebagian area juga tergolong dalam Kelas Tanah D, yang merupakan kategori tanah sedang.
Kondisi tanah seperti ini dapat menyebabkan guncangan gempa terasa lebih kuat. Efeknya lebih signifikan dibandingkan wilayah dengan struktur tanah yang lebih keras.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa dirasakan dengan intensitas III MMI di Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Magelang. Di Pacitan, Solo, Trenggalek, Purworejo, dan Wonogiri, guncangan dirasakan dengan intensitas II MMI.
Meskipun dirasakan di sejumlah daerah, gempa ini tidak dilaporkan menimbulkan kerusakan. Badan Geologi menyatakan tidak ada laporan kerusakan signifikan akibat guncangan tersebut.
Badan Geologi memperkirakan gempa ini tidak akan diikuti bahaya ikutan. Bahaya tersebut meliputi retakan tanah, penurunan lahan, likuefaksi, maupun longsoran.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada. Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan perlu dipertahankan.
Warga juga diminta untuk memeriksa kondisi bangunan secara mandiri setelah gempa terjadi. Penting untuk mematuhi rambu evakuasi yang telah ditetapkan. Masyarakat juga diimbau menjauhi daerah tebing yang rawan gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan lebat.