BMKG Catat 23 Gempa Susulan Guncang Bantul, Warga Diimbau Tenang

KURISU NEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 23 gempa susulan mengguncang wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rentetan gempa ini terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 4,5 pada Selasa siang, 27 Januari 2026. Peristiwa ini memicu perhatian publik terhadap aktivitas seismik di kawasan tersebut.

Gempa utama tercatat pada pukul 13.15 WIB. Aktivitas seismik ini dipicu oleh pergerakan Sesar Opak. BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan selalu memantau informasi resmi.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menjelaskan perkembangan gempa susulan. Pada pukul 13.45 WIB, pihaknya mencatat 14 gempa susulan. Jumlah ini kemudian bertambah signifikan dalam waktu singkat.

Hingga pukul 14.45 WIB, total gempa susulan mencapai 23 kali. Magnitudo gempa-gempa susulan tersebut berkisar antara 1 hingga 2. Ardhianto menyebut fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan gempa susulan cenderung meluruh.

“Artinya, gempa bumi susulan ini juga gempanya meluruh atau magnitudonya lebih kecil,” kata Ardhianto. Penjelasan ini diberikan saat ditemui di kantornya, Gamping, Sleman, DIY. Ini adalah indikator umum dari aktivitas seismik pasca gempa utama.

Menyikapi serangkaian gempa ini, Ardhianto Septiadhi menekankan pentingnya ketenangan. Ia juga mengingatkan bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Masyarakat diharapkan siap dengan langkah-langkah mitigasi.

“Untuk masyarakat tetap tenang, tetap dipahami bahwa gempa sampai saat ini tidak bisa diprediksi,” pesannya. Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana alam. Informasi valid dari BMKG menjadi rujukan utama.

Sebelumnya, gempa utama magnitudo 4,5 mengguncang wilayah Bantul pada pukul 13.15 WIB. Hasil analisis BMKG memperbarui parameter gempa ini. Episenter gempa bumi berada pada koordinat 7.87 LS; 110.49 BT.

Lokasi tepatnya adalah di darat, sekitar 16 kilometer arah timur Bantul, DIY. Kedalaman hiposenternya tercatat 11,0 kilometer. Kedalaman dangkal ini berkontribusi pada intensitas guncangan yang dirasakan di permukaan.

Ardhianto menjelaskan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Penyebabnya adalah aktivitas Sesar Opak. Sesar Opak merupakan salah satu sesar aktif yang melintasi wilayah Jawa bagian selatan.

Guncangan gempa terasa di berbagai wilayah dengan intensitas berbeda. Di Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten, intensitasnya mencapai III MMI. Getaran dirasakan seperti ada truk bermuatan berat melintas.

Sementara itu, di Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang, intensitas gempa berada pada skala II MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh sedikit orang. Benda-benda ringan yang digantung juga bergoyang.

Hingga laporan ini disusun, BMKG belum menerima laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Tidak ada dampak signifikan yang dilaporkan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan juga menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Tinggalkan komentar