KURISU NEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi dua kejadian gempa bumi yang mengguncang wilayah Jawa pada Selasa (27/1) tidak saling berkaitan. Gempa berkekuatan magnitudo 4,5 di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), siang hari, dipastikan memiliki sumber yang berbeda dengan gempa di Pacitan, Jawa Timur, yang terjadi pagi harinya.
Penegasan ini disampaikan oleh Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi. Ia menjelaskan bahwa perbedaan sumber pemicu menjadi alasan utama mengapa kedua peristiwa seismik tersebut tidak memiliki korelasi. “Gempa dengan sumber yang berbeda. Jadi tidak berkaitan,” ujar Ardhianto di kantornya, Gamping, Sleman.
Gempa di Bantul tercatat terjadi pada pukul 13.15 WIB. Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Opak. Episenter gempa terletak di darat, tepatnya pada koordinat 7.87 Lintang Selatan dan 110.49 Bujur Timur.
Lokasi episenter tersebut berjarak sekitar 16 kilometer arah timur Bantul, DIY. Kedalaman hiposenter gempa Bantul tergolong dangkal, yakni 11,0 kilometer. Kejadian gempa utama ini kemudian diikuti oleh serangkaian gempa susulan.
Hingga pukul 14.45 WIB, BMKG mencatat total 23 gempa susulan. Kekuatan gempa-gempa susulan tersebut bervariasi, berkisar antara magnitudo 1 hingga 2. Fenomena ini menunjukkan adanya pelepasan energi yang berkelanjutan setelah gempa utama.
Sementara itu, gempa yang terjadi di Pacitan tercatat pada pukul 08.20 WIB. Gempa ini berpusat di darat, sekitar 24 kilometer arah tenggara Pacitan. Kedalaman hiposenternya jauh lebih dalam, mencapai 122 kilometer.
Ardhianto Septiadhi lebih lanjut menerangkan perbedaan pemicu kedua gempa tersebut. “Kalau di Bantul ini kan (pemicu) Sesar Opak. Kalau yang di Pacitan itu adalah aktivitas lempeng subduksi,” jelasnya. Gempa Pacitan dipicu oleh aktivitas deformasi batuan dalam lempeng.
Perbedaan mekanisme ini menunjukkan karakteristik geologi yang berbeda di masing-masing lokasi. Sesar Opak merupakan sesar aktif yang melintasi wilayah DIY. Aktivitas lempeng subduksi mengacu pada pergerakan lempeng tektonik di bawah lempeng lainnya. Getaran gempa Pacitan sendiri sempat dirasakan hingga wilayah DIY.
Getaran gempa bumi yang berpusat di Bantul dilaporkan terasa luas di beberapa wilayah. Di Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten, intensitas getaran mencapai skala III MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan seperti adanya truk bermuatan berat yang melintas.
Selain itu, getaran gempa juga dirasakan di Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang. Di wilayah-wilayah ini, intensitasnya berada pada skala II MMI. Getaran pada skala ini hanya dirasakan oleh sedikit orang, dan benda-benda ringan yang digantung mulai bergoyang.
BMKG menegaskan bahwa hingga laporan ini dibuat, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan yang signifikan akibat gempa bumi Bantul. Hasil pemodelan yang dilakukan oleh BMKG juga menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami. Informasi ini memberikan ketenangan bagi masyarakat di wilayah terdampak.