BMKG Tegaskan OMC Bukan Pemicu Cuaca Tidak Stabil, Melainkan Upaya Mitigasi

KURISU NEWS – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan di beberapa wilayah untuk menekan curah hujan. Tindakan ini memicu anggapan di media sosial bahwa OMC berpotensi menyebabkan cuaca tidak stabil. Narasi tersebut menyebut OMC sebagai “bom waktu” dengan risiko bencana lain.

Klaim yang beredar termasuk pembentukan “cold pool” atau kolam dingin. Ada juga kekhawatiran OMC memindahkan atau menumpuk air. Hal ini disebut berpotensi menyebabkan banjir besar. Serta memberikan rasa aman yang palsu bagi masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi kekhawatiran tersebut. BMKG menegaskan OMC adalah upaya mitigasi bencana yang terukur. Langkah ini berbasis sains untuk melindungi masyarakat. Ini merupakan respons terhadap penurunan daya dukung lingkungan.

BMKG menjelaskan bahwa “cold pool” adalah fenomena meteorologi alami. Fenomena ini terjadi saat uap air hujan mendinginkan udara. Kemudian menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan. Setiap hujan alami pasti membentuk “cold pool.”

Mengaitkan “cold pool” sebagai efek samping berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains. BMKG menyatakan teknologi manusia belum mampu menciptakan massa udara dingin skala besar. OMC hanya memicu proses alami pada awan jenuh. Ini bukan membangun sistem pendingin atmosfer raksasa.

Modifikasi cuaca dengan teknik penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru. Teknik ini hanya bekerja pada awan yang sudah ada. Tujuan OMC murni mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat. Ini dilakukan dengan menambah atau mengurangi curah hujan.

Isu lain yang beredar adalah OMC memindahkan hujan ke wilayah lain. Hal ini disebut berpotensi menyebabkan banjir. BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan. Ini untuk melindungi wilayah strategis dari hujan berlebih.

Metode pertama adalah Jumping Process Method. Tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut. Awan disemai sebelum mencapai daratan. Tujuannya agar hujan jatuh di perairan. Ini mengurangi potensi hujan di daratan.

Metode kedua adalah Competition Method. Awan yang tumbuh langsung di atas daratan disemai sejak dini. Ini bertujuan mengganggu pertumbuhan awan. Tujuannya agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. Cara ini meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya.

BMKG menyepakati pentingnya kemampuan lingkungan merespons air hujan. Hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama. Ini menyebabkan kurangnya daerah resapan. Kondisi ini berpotensi memicu banjir.

Oleh karena itu, penataan lingkungan menjadi hal paling utama. Upaya ini harus dilakukan pemerintah dan masyarakat. Namun, upaya mengurangi curah hujan seperti OMC juga diperlukan. Ini agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini.

Penataan lingkungan harus terus dilakukan ke depan. Kapasitas modifikasi cuaca juga perlu ditingkatkan. Tantangan perubahan iklim nyata. Potensi terjadinya hujan ekstrem akan terus meningkat.

Pemerintah tidak memiliki kepentingan untuk menciptakan cuaca buruk. Cuaca buruk akan merugikan ekonomi dan membahayakan warga. OMC adalah alat bantu mengelola risiko cuaca. Ini terutama di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan.

Tinggalkan komentar