BMKG Ungkap Kondisi Sesar Opak Pemicu Gempa Magnitudo 4,5 di Bantul

KURISU NEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi Sesar Opak usai memicu gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5. Gempa tersebut mengguncang wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Selasa (27/1) siang.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menyatakan bahwa semua sumber gempa di Indonesia dipantau BMKG selama 24 jam. Pemantauan intensif ini termasuk Sesar Opak yang dikenal aktif.

Ardhianto menjelaskan, gempa bumi sebenarnya terjadi setiap hari. Namun, tidak semua kejadian dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung.

Sesar Opak adalah patahan aktif yang membentang di tengah Provinsi DIY. Aktivitas pergerakan sesar ini sering menjadi penyebab utama gempa di wilayah tersebut.

Sesar Opak pernah menyebabkan gempa bumi merusak pada 27 Mei 2006. Peristiwa tersebut mengakibatkan ribuan jiwa melayang dan kerusakan parah.

Ada enam titik di DIY yang dilintasi Sesar Opak. Lokasi tersebut meliputi Kalidadap, Goa Cerme, Lenteng Satu, Kedungrejo, Kedung Tolok, dan Sungai Kaliurà.

Berdasarkan pantauan Stasiun Geofisika Sleman, aktivitas kegempaan termonitor rata-rata mencapai 100 hingga 150 kejadian setiap pekan. Skala magnitudonya tergolong rendah, berkisar antara 1 hingga 2 saja.

Getaran gempa dengan magnitudo rendah ini tidak dapat dirasakan oleh manusia. Deteksi hanya bisa dilakukan menggunakan alat pendeteksi gempa khusus.

Gempa dengan skala magnitudo di bawah 3 sering terjadi, bahkan hampir setiap hari. Frekuensinya bisa mencapai lebih dari 10 hingga 20 kali dalam sehari.

Menurut Ardhianto, intensitas gempa semacam ini adalah fenomena normal. Hal ini wajar mengingat banyaknya sumber gempa di sepanjang wilayah Indonesia.

Aktivitas gempa bumi memang sangat bergantung pada karakteristik sumber gempanya. BMKG kini mampu memantau aktivitas Sesar Opak hingga magnitudo yang sangat kecil, bahkan skala satu, berkat teknologi terbaru.

Gempa Bantul yang mencapai magnitudo 4,5 pada hari ini adalah akibat pelepasan akumulasi energi. Sesar Opak diketahui masih terus aktif hingga saat ini.

Ardhianto menguraikan, semakin besar energi gempa bumi, semakin besar pula skalanya. Namun, kejadian gempa berskala besar justru semakin jarang terjadi.

Sejak gempa utama mengguncang Bantul pada pukul 13.15 WIB, BMKG mencatat 14 gempa susulan. Data ini terkumpul per pukul 13.45 WIB.

Jumlah gempa susulan kemudian bertambah menjadi 23 per pukul 14.45 WIB. Kisaran skala magnitudonya tetap rendah, yakni antara 1 hingga 2.

Ardhianto menjelaskan, gempa susulan ini menunjukkan peluruhan energi. Artinya, magnitudo gempa yang terjadi setelahnya menjadi lebih kecil.

Oleh karena itu, Ardhianto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Warga juga diminta selalu memonitor informasi terkini yang dikeluarkan oleh BMKG.

Masyarakat perlu memahami bahwa gempa bumi tidak dapat diprediksi saat ini. Kesiapan terhadap langkah-langkah mitigasi menjadi kunci utama saat terjadi gempa.

Tinggalkan komentar