KURISU NEWSS – Serial drama ‘Love Me’ kembali menyajikan intrik emosional mendalam pada episode 9 dan 10. Keluarga Seo, yang terdiri dari Jin Ho (Yoo Jae Myung), Jun Kyung (Seo Hyun Jin), dan Jun Seo (Lee Si Woo), dihadapkan pada serangkaian peristiwa tak terduga yang menguji ikatan dan ketahanan batin mereka. Berbagai perasaan seperti kerinduan, kebahagiaan, kecemasan, hingga amarah memuncak, membentuk narasi yang kaya dan penuh gejolak.
Seiring rumah keluarga mereka yang kini hendak dijual, kenangan masa lalu kembali membayangi. Sementara itu, Jun Kyung terusik dengan kehadiran Yoon Ju (Gong Sung Ha) dan proposal tak terduga dari Do Hyun (Chang Ryul) yang memicu konflik batinnya. Di sisi lain, rencana Jin Ho dan Ja Yeong (Yoon Sea) untuk pindah ke gunung tidak berjalan mulus karena perubahan suasana hati Ja Yeong yang mengkhawatirkan.
Jun Seo pun menerima tawaran mengajar dengan syarat yang jauh lebih berat dari perkiraan. Namun, kejutan terbesar justru menimpa Do Hyun, sebuah pengungkapan yang berpotensi mengubah seluruh hidupnya. Berikut adalah empat emosi yang mendominasi karakter-karakter dalam ‘Love Me’.
Kerinduan Akan Masa Lalu
Keputusan Jin Ho untuk menjual rumah keluarga membangkitkan gelombang emosi – kesedihan, nostalgia, dan kerinduan mendalam akan kenangan yang terukir di dalamnya. Bahkan Jun Kyung, yang dikenal paling pragmatis, mengaku kepada Do Hyun bahwa menjual rumah terasa seperti menghapus kenangan, meskipun ia mengklaim tidak memiliki keterikatan emosional pada rumah tersebut.
Jun Seo, yang merasa tercerabut, akhirnya pindah untuk sementara waktu ke rumah Hye On (Dahyun TWICE), sembari memendam kekecewaan pada ayahnya.
Ironisnya, Jin Ho sendiri, yang awalnya mendorong penjualan, justru ragu saat calon pembeli membicarakan renovasi. Baginya, rumah yang tidak sempurna itu, yang telah menyaksikan suka dan duka, sudah sempurna adanya. Akhirnya, Jun Kyung dan Do Hyun memutuskan untuk membeli rumah tersebut, memungkinkan Jin Ho pindah dan Jun Seo kembali ke rumah.
Untuk pertama kalinya, meskipun ada perbedaan, keluarga Seo bersatu untuk melindungi apa yang paling mereka hargai: rumah dan kenangan Mi Ran, yang tetap hidup di hati mereka.
Kebahagiaan dan Kenyamanan dalam Kebersamaan
Jun Kyung terus merasa gelisah sejak kedatangan Yoon Ju. Kecemasannya semakin dalam ketika ia mengetahui Do Hyun telah berbohong tentang pertemuannya dengan Yoon Ju untuk urusan pekerjaan. Bertekad untuk memperjelas batasan, Do Hyun menegaskan kepada mantan pasangannya bahwa ia berencana menikahi Jun Kyung.
Namun, ketika Do Hyun melamar, Jun Kyung menolaknya. Penolakan ini bukan karena Do Hyun, melainkan beban yang ia kaitkan dengan pernikahan. Dihantui oleh kehidupan ibunya yang ia yakini penuh jebakan dan ketidakbahagiaan, Jun Kyung diliputi ketakutan dan keraguan diri.
Do Hyun pun kebingungan, tidak memahami apa yang menghalangi mereka.
Kejelasan datang ketika Jun Kyung membayangkan percakapan dengan ibunya, yang meyakinkannya bahwa meskipun penuh tantangan, ia bahagia. Sang ibu mengingatkan Jun Kyung bahwa Do Hyun juga akan membuatnya bahagia, dan bahwa pernikahan, meskipun merupakan lompatan ke hal yang tidak diketahui, bukanlah sesuatu yang perlu ia takuti.
Perlahan, Jun Kyung mulai melihat bahwa ia mampu mengambil lompatan tersebut. Di lain sisi, Jin Ho dan Ja Yeong diam-diam mengukuhkan hubungan mereka, memilih kebersamaan dan tekad bersama. Jun Seo, yang kini tinggal bersama Hye On, mengejutkannya dengan rasa tanggung jawab yang semakin besar.
Didorong oleh optimisme Hye On, pemuda yang dulu suka menyendiri ini mulai menunjukkan pertumbuhan emosional yang nyata.
Kecemasan Menatap Masa Depan
Saat hidup tampak mulai tertata, realita memberikan kejutan yang mengguncang semua orang dari zona nyaman mereka. Jin Ho dan Ja Yeong mulai menata kehidupan tenang di gunung, namun Ja Yeong mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Sifat pelupanya dan sering mengulang kejadian masa lalu, yang awalnya dianggap sebagai masalah penyesuaian dan kesedihan atas kehilangan hewan peliharaannya, Bom, mulai terasa jauh lebih mengkhawatirkan.
Ketika ia lupa jalan pulang dan bahkan alasan mengapa ia pindah ke gunung bersama Jin Ho, keduanya terguncang. Kebingungannya membuat Ja Yeong takut, dan Jin Ho bertanya-tanya apakah ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih serius.
Di tempat lain, Jun Seo akhirnya menerima tawaran mengajar, tetapi dengan jaminan finansial yang sangat tinggi yang tidak sanggup ia penuhi. Terlalu bangga untuk meminta bantuan pacar atau kakaknya, ia diam-diam mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengemudi malam. Remaja yang dulu menjalani hidup tanpa tujuan ini mulai memikul tanggung jawab sendirian.
Namun, rasa percaya dirinya kembali menurun, dan ia tetap tidak yakin tentang masa depan dan dirinya sendiri. Sementara itu, kehidupan domestik Jun Kyung dan Do Hyun yang tenang diguncang oleh kejutan lain. Setelah tes kehamilan negatif, Jun Kyung khawatir ia mungkin terlalu tua untuk hamil.
Do Hyun menyarankan keduanya untuk melakukan tes. Tes medis mengungkapkan kebenaran tak terduga: bukan Jun Kyung, melainkan Do Hyun yang infertil. Terkejut dengan pengungkapan itu, ia memberi tahu dokter bahwa ia sudah menjadi seorang ayah.
Dokter terkejut dan mengatakan bahwa dalam kasusnya ini bersifat kongenital dan mungkin ia perlu menghadapi ibu dari anaknya. Do Hyun diliputi kekacauan… apakah hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan?
Kemarahan Jun Kyung yang Memuncak
Agresi pasif Yoon Ju telah lama menjadi bara api bagi Jun Kyung. Dengan berulang kali menegaskan posisinya dalam hidup Do Hyun melalui Daniel, ia menandai wilayahnya dengan kekejaman yang tenang, menggunakan status sebagai ibu sebagai permanensi. Pesan tak terucapnya selalu sama: apa pun yang terjadi di masa lalu atau sekarang, Yoon Ju dan Do Hyun memiliki ikatan yang tidak bisa dihapus.
Yang benar-benar mengganggu Yoon Ju bukan hanya kehadiran Jun Kyung, tetapi penerimaan Daniel terhadapnya. Kemudahan anak itu akrab dengan Jun Kyung mengancam otoritas yang Yoon Ju yakini dimilikinya. Yakin bahwa Do Hyun tidak akan pernah menikahi Jun Kyung, ia terkejut dengan pengumuman pernikahan mereka yang akan segera terjadi, dan kemarahan menggantikan pengekangan.
Saat menghadapi Jun Kyung, Yoon Ju menyerang legitimasi hubungan mereka, menolak dua tahun keintiman sebagai sesuatu yang rapuh dan sementara. Ia bersikeras bahwa pernikahan tidak dapat mengubah kebenaran biologis dan meningkatkan ancaman dengan menyatakan niatnya untuk pindah ke lingkungan yang sama.
Implikasinya jelas: kedekatan dengan putranya pasti akan menarik Do Hyun kembali ke arahnya dan kehidupan yang ia representasikan. Jun Kyung, yang selama ini memendam namun tetap tenang, mencapai titik puncaknya. Ia sendirian memikul beban infertilitas Do Hyun, sebuah rahasia yang ia bersumpah akan lindungi, terutama dari Daniel.
Namun, ketika provokasi Yoon Ju menjadi tak tertahankan, Jun Kyung melontarkan satu pertanyaan yang menghancurkan: apakah Yoon Ju yakin bahwa Do Hyun adalah ayah Daniel? Keterkejutan di wajah Yoon Ju menandakan keretakan, tetapi momen itu datang dengan harga yang mahal. Ledakan Jun Kyung, meskipun terkendali, merusak hubungannya sendiri, menunjukkan bagaimana kebenaran, setelah dijadikan senjata, tidak memihak siapa pun.
Ini adalah titik puncak Jun Kyung – momen di mana daya tahan emosional menyerah pada naluri untuk menyelamatkan diri. Kemarahannya bukanlah impulsif, melainkan kumulatif, lahir dari penghinaan dan penghapusan yang berkelanjutan. Sementara Yoon Ju berjuang untuk merebut kembali masa lalu yang ia yakini dicuri, Jun Kyung mewakili seorang wanita yang telah memilih penerimaan daripada penyangkalan, bahkan ketika ia bergulat dengan ketidakmampuan Do Hyun untuk membela hubungan mereka.
Konfrontasi ini mengungkapkan kebenaran sentral: kemarahan jarang datang tiba-tiba, dan itu adalah apa yang tersisa ketika keheningan tidak lagi bisa bertahan.