KURISU NEWS – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan kemajuan signifikan dalam kecepatan dan pemerataan akses internet di Indonesia. Data ini mencakup periode hingga tahun 2025. Menkomdigi Meutya Hafid menyebut kecepatan mobile broadband di seluruh ibu kota provinsi mencapai 63,5 Mbps.
Sementara itu, kecepatan rata-rata fixed broadband di ibu kota provinsi juga menunjukkan angka positif. Kecepatannya tercatat mencapai 51,84 Mbps. Laporan tersebut disampaikan Meutya dalam Rapat Kerja Komisi I DPR bersama Komdigi pada Senin (26/1).
Sebagai perbandingan, data kecepatan internet rata-rata Indonesia versi Ookla per Desember 2025 menunjukkan angka berbeda. Untuk mobile broadband, kecepatan unduh (download) berada di angka 52,73 Mbps. Kecepatan unggah (upload) tercatat pada 17,28 Mbps.
Adapun untuk fixed broadband, kecepatan unduh mencapai 44,38 Mbps. Sementara kecepatan unggah berada di angka 30,61 Mbps. Data ini memperlihatkan adanya perbedaan antara klaim Komdigi dan hasil pengukuran pihak ketiga.
Meutya juga mengungkapkan penetrasi jaringan 4G di Indonesia telah mencapai 98,95 persen populasi penduduk. Angka tersebut ditargetkan akan meningkat menjadi 99,05 persen pada tahun 2026. Ini menunjukkan komitmen untuk pemerataan akses internet.
Selain itu, layanan 5G juga menunjukkan pertumbuhan yang melampaui target. Pada tahun 2025, cakupan 5G telah mencapai 6,33 persen luas pemukiman di Indonesia. Angka ini melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 4,4 persen.
Dari aspek kualitas layanan, kecepatan internet seluler di ibu kota provinsi mencapai rata-rata 63,51 Mbps. Untuk fixed broadband, yang banyak digunakan rumah tangga dan perkantoran, kecepatan rata-rata 51,84 Mbps. Peningkatan ini diharapkan mendukung aktivitas digital masyarakat.
Komdigi juga melaporkan peningkatan infrastruktur fixed broadband nasional. Pembangunan jaringan serat optik telah menjangkau 72.125 kilometer. Jaringan ini mencakup 5.253 kecamatan di berbagai wilayah Indonesia.
Program Kampung Internet turut berkontribusi dalam pemerataan akses. Program ini telah menyediakan akses internet di 1.194 titik. Terutama di daerah yang sebelumnya sulit terjangkau koneksi internet.
Digitalisasi juga diterapkan di sektor kebencanaan. Hingga 2025, Sistem Informasi Kebencanaan telah terintegrasi dengan Layanan Panggilan Darurat 112. Integrasi ini hadir di 186 kabupaten/kota dari 514 daerah. Tujuannya adalah mempercepat respons pemerintah dalam situasi darurat.
Ke depan, Komdigi menargetkan percepatan layanan pada tahun 2026. Cakupan 4G diharapkan naik menjadi 99,05 persen populasi. Jaringan 5G ditargetkan mencapai 8,5 persen wilayah permukiman. Integrasi layanan darurat 112 akan diperluas hingga 200 kabupaten/kota.
Pemerintah juga memproyeksikan lonjakan kecepatan internet. Mobile broadband di ibu kota provinsi ditargetkan mencapai 80 Mbps. Sementara fixed broadband menembus 64 Mbps. Target ini sejalan dengan percepatan RPJMN.
Program Internet Murah melalui Broadband Wireless Access (BWA) pita 1,4 GHz akan dilanjutkan. Program ini menargetkan jangkauan sekitar 1,99 juta penduduk atau rumah tangga pada tahun 2026.