Pakar BRIN: Lonjakan Ikan Sapu-sapu Ciliwung, Sinyal Kerusakan Lingkungan?

KURISU NEWS – Populasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tinggi di Sungai Ciliwung telah lama menjadi perhatian peneliti. Fenomena ini memicu pertanyaan tentang kondisi kesehatan lingkungan sungai. Para ahli menyoroti apakah melimpahnya spesies invasif ini merupakan indikator kerusakan ekosistem Ciliwung.

Triyanto, Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebut peningkatan populasi ikan sapu-sapu dapat dikaitkan dengan penurunan kualitas air. Ia menjelaskan ikan sapu-sapu memiliki daya adaptasi sangat tinggi. Spesies ini mampu bertahan hidup pada kondisi air yang kurang baik.

Meski begitu, Triyanto juga mengingatkan bahwa ada batas toleransi ikan ini terhadap pencemaran. “Pada range tertentu bila perairannya makin buruk, ikan ini juga akan terdampak bahkan bisa mengalami kematian,” ujarnya. Oleh karena itu, keberadaan ikan sapu-sapu dapat berfungsi sebagai indikator kondisi lingkungan sungai.

Namun, Triyanto menambahkan, tidak adanya ikan sapu-sapu di perairan kotor tidak selalu menunjukkan kualitas air yang baik. Ia juga mengakui belum ada riset khusus BRIN terkait perkembangan populasi ikan sapu-sapu di Ciliwung. Meskipun demikian, para periset BRIN dan akademisi menaruh perhatian pada isu spesies introduksi di perairan Indonesia.

Indikasi lonjakan populasi ikan sapu-sapu ini semakin sering dilaporkan masyarakat dan peneliti. Sebuah riset tahun 2022 dari Universitas Al Azhar Indonesia dan BATAN menyoroti kelimpahan ikan sapu-sapu di Ciliwung. Studi berjudul “Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis)” tersebut menyebutkan potensi pemanfaatan yang belum optimal.

Riset lain oleh Daisy Wowor pada 2010 juga menunjukkan dominasi ikan sapu-sapu di komunitas ikan Ciliwung. Studi tersebut mencatat ikan ini bahkan telah dimanfaatkan sebagai sumber protein oleh penduduk setempat. Hal ini menegaskan keberadaan ikan sapu-sapu yang signifikan sejak lama.

Triyanto menjelaskan ikan sapu-sapu sangat adaptif terhadap lingkungan yang terdegradasi. Penurunan kualitas air, tingginya kandungan organik, serta perubahan ekosistem sungai akibat pencemaran mendukung perkembangannya. “Sifatnya yang mampu bertahan di kondisi ekstrem membuat populasinya cenderung meningkat,” terang Triyanto.

Spesies ini juga memiliki kulit tubuh yang keras, menjadikannya tahan terhadap predator. Di perairan Indonesia, ikan sapu-sapu nyaris tidak memiliki predator alami. Asalnya dari Amerika Selatan, khususnya daerah tropis Brasil, ikan ini masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Banyak kemudian dilepas atau terlepas ke perairan umum.

Di ekosistem sungai, ikan sapu-sapu berperan sebagai spesies invasif. Mereka berkompetisi dengan ikan lokal untuk ruang dan sumber daya. Sifatnya yang agresif dan dominan di dasar perairan dapat menekan populasi ikan asli. Keluhan warga mengenai ikan sapu-sapu yang menggeser ikan lokal pun sering terdengar.

Kemampuan reproduksi ikan sapu-sapu juga sangat tinggi. Satu induk betina dapat menghasilkan 1000 hingga 5000 telur. Ikan jantan menjaga proses perkembangan telur, menghasilkan tingkat kelangsungan hidup anakan yang besar. Ikan ini mencapai kematangan seksual dan dapat bereproduksi dalam waktu sekitar 6-12 bulan.

Karena populasinya tidak dimanfaatkan secara masif, perkembangan ikan sapu-sapu terus meningkat tanpa kendali. “Jika populasinya terus meningkat tanpa kendali, ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai,” kata Triyanto. Dominasi spesies invasif ini dapat mengurangi keanekaragaman ikan asli.

Dampak lebih lanjut termasuk perubahan rantai makanan dan penurunan nilai ekonomi perikanan lokal. Untuk mengatasi ancaman ini, Triyanto menyarankan sejumlah langkah pengendalian. Pihak terkait dapat melakukan monitoring rutin untuk memetakan distribusi dan kepadatan populasi.

Edukasi masyarakat sangat penting agar tidak melepas ikan non-asli ke perairan umum. Pengelolaan habitat sungai juga krusial dengan memperbaiki kualitas air. Ini bertujuan agar ikan lokal yang lebih sensitif dapat kembali berkembang. Kajian pemanfaatan alternatif juga diperlukan untuk menekan populasi, misalnya sebagai bahan pakan ternak atau produk lainnya. Program penangkapan massal dapat pula melibatkan partisipasi aktif warga masyarakat.

Tinggalkan komentar