KURISU NEWS – Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap kondisi global yang mengkhawatirkan. Dunia kini disebut telah memasuki era ‘kebangkrutan air’. Banyak wilayah tidak lagi mampu pulih dari krisis air yang berkepanjangan.
Situasi ini jauh lebih parah dari sekadar ‘krisis air’ atau ‘kekurangan air’. Demikian menurut laporan yang diterbitkan Universitas PBB pada Selasa (20/1). Studi ini didasarkan pada riset yang dimuat dalam jurnal Water Resources.
Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB, menyatakan bahwa istilah ‘krisis’ menyiratkan kondisi sementara. Ia menekankan perlunya adaptasi terhadap realitas baru dengan ketersediaan air yang lebih ketat.
Konsep kebangkrutan air berarti dunia menggunakan air lebih banyak dari yang diterima alam. Air diekstraksi dari sungai, danau, rawa, serta akuifer bawah tanah. Kecepatan penarikan ini melampaui kemampuan alam untuk memulihkannya. Akibatnya, manusia berada dalam kondisi ‘utang air’.
Perubahan iklim memperparah kondisi ini. Panas ekstrem dan kekeringan mengurangi jumlah air tersedia. Tekanan pada sumber daya air pun meningkat. Hal ini menyebabkan sungai dan danau menyusut, rawa mengering, serta cadangan air tanah menurun. Fenomena seperti tanah retak, lubang ambles, dan gurunisasi juga terjadi.
Data dalam laporan tersebut sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 50 persen danau besar di dunia telah kehilangan air sejak tahun 1990. Sekitar 70 persen cadangan air tanah utama mengalami penurunan jangka panjang.
Dalam 50 tahun terakhir, area rawa-rawa seluas Uni Eropa telah hilang. Sementara itu, gletser di seluruh dunia menyusut sekitar 30 persen sejak tahun 1970. Bahkan di wilayah yang tidak terlalu tertekan, pencemaran mengurangi ketersediaan air layak konsumsi.
Madani menyebut banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya. Tidak mungkin untuk kembali ke kondisi sebelumnya. Hampir 4 miliar orang menghadapi kelangkaan air setidaknya satu bulan setiap tahun.
Sebagai contoh, Kabul, ibu kota Afghanistan, berpotensi menjadi kota modern pertama yang kehabisan air. Kota Meksiko amblas sekitar 20 inci per tahun akibat penarikan air berlebihan dari akuifer raksasa di bawahnya. Di Amerika Serikat bagian barat daya, negara-negara bagian berselisih membagi pasokan air Sungai Colorado yang menipis.
Wilayah seperti Timur Tengah dan Afrika Utara menghadapi tekanan air tinggi. Asia Selatan mengalami kekurangan air kronis karena pertanian dan pertumbuhan populasi. Madani menyoroti perjanjian pembagian air Sungai Colorado yang tidak lagi sesuai kondisi lingkungan saat ini.
Kekeringan telah membuat banyak sungai menyusut. Kondisi ini bukan krisis sementara, melainkan keadaan permanen dengan ketersediaan air yang lebih sedikit. Menyadari skala masalah ini penting untuk beralih ke strategi jangka panjang.
Laporan tersebut menyerukan berbagai tindakan. Transformasi sektor pertanian, pengguna air terbesar di dunia, menjadi krusial. Ini termasuk perubahan jenis tanaman dan peningkatan efisiensi irigasi.
Peningkatan pemantauan sumber daya air juga didorong. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pemantauan jarak jauh dapat membantu. Pengurangan polusi dan penguatan perlindungan lahan basah serta air tanah juga menjadi prioritas.
Richard Allan, profesor ilmu iklim di Universitas Reading, menekankan pentingnya penanganan krisis iklim. Hal ini esensial untuk memastikan ketersediaan air bagi manusia dan ekosistem. Jonathan Paul, profesor geosains di Royal Holloway, Universitas London, menyatakan laporan ini mengungkap perlakuan buruk manusia terhadap air.
Madani menyimpulkan bahwa mengakui kenyataan krisis air akan membantu membuat pilihan sulit. Pilihan ini akan melindungi masyarakat, ekonomi, dan ekosistem. Penundaan hanya akan memperdalam defisit yang ada.