KURISU NEWS – Tim peneliti lintas institusi berhasil mengidentifikasi spesies hibrida alami baru dari tanaman kantong semar (Nepenthes). Penemuan ini berasal dari wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Spesies unik ini diberi nama ilmiah Nepenthes ×taringkecil. Temuan telah dipublikasikan secara resmi di jurnal ilmiah internasional Phytotaxa edisi Januari 2026.
Kolaborasi riset ini melibatkan sejumlah pakar dari berbagai institusi. Mereka adalah Arifin Surya Dwipa Irsyam dari Institut Teknologi Bandung (ITB), M. Rifqi Hariri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta M. Hisyam Fadhil dari IPB University. Arifin merupakan Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Nepenthes ×taringkecil merupakan nothospecies, atau hibrida alami. Ia adalah hasil persilangan dua spesies kantong semar lain yang telah dikenal. Kedua spesies induk itu adalah Nepenthes bicalcarata dan Nepenthes mirabilis. Kedua induk tersebut diketahui tumbuh berdampingan di habitat alaminya di Mempawah.
Penamaan “taringkecil” merujuk pada ciri morfologi khasnya yang unik. Ciri itu terletak pada bagian peristome, atau bibir kantong tanaman. Spesies baru ini mewarisi karakter “taring” yang khas dari induknya, N. bicalcarata. Namun, ukuran taring pada spesies hibrida ini jauh lebih kecil.
“Kami menamakan ×taringkecil karena pada bagian peristome-nya terdapat sepasang gigi kecil,” ungkap Arifin dalam keterangannya. Gigi tersebut memiliki panjang sekitar 0,5 hingga 0,8 milimeter. Sementara itu, taring pada induk N. bicalcarata dapat mencapai 3 sentimeter. Pernyataan Arifin itu dikutip dari laman ITB, Sabtu (24/1).
Secara morfologi, bagian atas badan kantong spesies hibrida ini berbentuk silindris. Bentuknya menyerupai N. mirabilis. Meski demikian, ia tetap memiliki taring yang tereduksi. Berbeda dengan N. bicalcarata, Nepenthes ×taringkecil juga tidak memiliki rongga pada tendril atau sulurnya. Rongga ini biasanya menjadi tempat bersarang semut pada spesies N. bicalcarata.
Penelitian awal tidak dimulai dengan ekspedisi lapangan langsung ke hutan Mempawah. Arifin mengungkapkan bahwa tim peneliti tidak melakukan pengambilan spesimen secara langsung di lokasi. Keterbatasan waktu menjadi salah satu faktor utama kendala tersebut.
Sebagai gantinya, riset ini berkembang melalui pendekatan citizen science. Spesimen awal diperoleh dari Nazila dan Rais. Keduanya merupakan rekan pecinta dan pembudidaya kantong semar. Kontribusi mereka sangat membantu dalam tahap awal identifikasi.
Informasi mengenai keberadaan tanaman unik ini telah terpantau. Data itu muncul pertama kali melalui media sosial sejak tahun 2024. Keterangan dari warga setempat juga memperkuat dugaan terjadinya hibridisasi alami. Mereka menyebut bahwa N. bicalcarata dan N. mirabilis tumbuh berdekatan di kawasan hutan kerangas dan rawa gambut Mempawah.
Analisis DNA berbasis internal transcribed spacer (ITS) kemudian dilakukan untuk konfirmasi lebih lanjut. Hasilnya mengonfirmasi bahwa spesimen tersebut memiliki kekerabatan genetik yang dekat dengan N. mirabilis. Namun, analisis juga menunjukkan pengaruh morfologi yang jelas dari N. bicalcarata. Temuan ini semakin memperkuat bukti bahwa Nepenthes ×taringkecil merupakan hasil hibridisasi alami.
Seluruh proses validasi ilmiah diselenggarakan di Bogor, dengan pembagian peran yang jelas. M. Rifqi Hariri bertanggung jawab atas analisis molekuler. M. Hisyam Fadhil menangani penanaman sampel hidup serta ilustrasi botani spesies. Sementara itu, Arifin Surya Dwipa Irsyam menyusun deskripsi morfologi spesies yang baru ditemukan ini.