Seni Cadas Pulau Muna Ungkap Jalur Migrasi Manusia Purba ke Australia

KURISU NEWS – Penemuan seni cadas tertua di Pulau Muna, Sulawesi, membawa implikasi besar. Temuan ini mengubah pemahaman migrasi manusia modern ke Australia. Para peneliti memastikan manusia telah berada di kawasan Sulawesi sejak 67.800 tahun lalu.

Bukti kuat ini menunjukkan manusia purba menggunakan jalur utara migrasi. Mereka melintasi wilayah Borneo-Sulawesi. Rute ini akhirnya membawa mereka mencapai Australia dan Papua.

Kesimpulan tersebut menjawab perdebatan panjang dalam arkeologi. Perdebatan mengenai rute migrasi manusia awal. Apakah melalui jalur selatan via Timor atau utara melalui Wallacea.

“Kita tahu dengan yakin mereka menggunakan rute utara untuk mencapai Australia,” ujar Maxime Aubert. Ia adalah arkeolog dari Griffith University. Aubert terlibat dalam penelitian penting ini.

Pada periode tersebut, daratan Australia dan Papua masih menyatu. Hal ini terjadi karena permukaan laut lebih rendah. Namun, manusia tetap harus menyeberangi laut. Ini menunjukkan kemampuan navigasi dan teknologi maritim yang jauh lebih maju.

Sebagian besar situs arkeologi awal di Australia berusia sekitar 50.000 tahun. Sementara situs berusia 60.000-65.000 tahun masih menjadi perdebatan. Bukti dari Sulawesi memperkuat argumen migrasi awal ke Australia.

“Sekarang, kita benar-benar menunjukkan bahwa manusia berada di sini,” ungkap Maxime Aubert. Keberadaan manusia di bagian dunia ini telah ada sejak 68.000 tahun lalu.

Penelitian ini mempertegas posisi Indonesia sebagai wilayah kunci. Ini penting dalam studi evolusi dan migrasi manusia modern. Penemuan ini juga mengungkap sejarah seni prasejarah dunia.

Menurut peneliti, cap tangan pada lukisan gua bukan fenomena unik Indonesia. Motif serupa ditemukan di Eropa, Argentina, dan Papua Nugini. Juga ditemukan di Australia Utara.

Namun, Sulawesi dan Kalimantan memiliki kekhasan lokal. Ini termasuk jari runcing atau dimodifikasi. Ada juga pola titik dan garis menyerupai tato. Kombinasi dengan figur hewan dan simbol abstrak juga ditemukan.

Makna simbolisnya masih menjadi perdebatan para peneliti. Pendekatan lintas disiplin sangat diperlukan. Ini meliputi arkeologi, etnografi, sejarah seni, hingga kajian religi.

Di balik signifikansinya, seni cadas Sulawesi menghadapi ancaman serius. Aktivitas manusia menjadi faktor paling berbahaya. Ini termasuk vandalisme pengunjung cagar budaya.

Kerusakan alami kawasan pesisir juga terjadi. Ekspansi tambang, terutama nikel, di Sulawesi Tenggara turut memperparah kondisi. Beberapa gambar dari dekade 1980-an kini rusak atau memudar drastis. Arkeologi kini berpacu dengan waktu.

Beberapa motif seni cadas seperti lukisan perahu dan layang-layang masih relevan. Resonansi budaya ini berlanjut hingga masa kini. Hal ini membuka kemungkinan adanya kesinambungan simbolik puluhan ribu tahun.

Tinggalkan komentar