Sesar Cimandiri Ancam Bandung Raya, BRIN Perkuat Riset Potensi Gempa

KURISU NEWS – Sesar Cimandiri kembali mencuat sebagai potensi ancaman gempa di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat. Keberadaannya kini melengkapi daftar ancaman seismik di samping Sesar Lembang yang lebih dahulu dikenal aktif.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah intensif melakukan penelitian komprehensif. Tujuannya untuk memahami karakteristik dan pergerakan Sesar Cimandiri secara lebih mendalam.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Putri Natari Ratna, menjelaskan rentang Sesar Cimandiri. Sesar ini membentang sepanjang sekitar 100 kilometer. Jalurnya dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.

Putri menambahkan, penelitian mengenai Sesar Cimandiri sebenarnya sudah banyak dilakukan. Namun, hasil riset sebelumnya belum sepenuhnya konklusif. Oleh karena itu, BRIN mengambil langkah untuk melakukan studi yang lebih menyeluruh.

Dalam penelitian ini, BRIN menerapkan pendekatan multidisipliner. Pendekatan tersebut mengombinasikan geologi, geofisika, dan geodesi. Ketiga disiplin ilmu ini diharapkan memberikan gambaran utuh.

Pendekatan geologi dilakukan melalui pengamatan lapangan. Tim mengidentifikasi bukti aktivitas sesar. Ini termasuk pergeseran lapisan batuan dan keberadaan cermin sesar. Temuan ini menandakan pergerakan kerak bumi.

Sementara itu, pendekatan geodesi memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS). Teknologi ini mengukur besar, laju, dan arah deformasi di sekitar Sesar Cimandiri. Tim peneliti melakukan GPS Campaign di 24 titik.

Pengambilan data dilakukan selama 36 jam setiap tahun. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama lima tahun. Durasi ini memungkinkan analisis data yang komprehensif dan akurat.

Pendekatan geofisika juga digunakan untuk menelusuri sejarah kegempaan di kawasan tersebut. Berdasarkan catatan, wilayah Cimandiri pernah mengalami gempa bermagnitudo di atas 5. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1982 dan 2000. Kejadian ini menunjukkan adanya aktivitas tektonik signifikan.

Sesar Cimandiri bahkan pernah memicu gempa besar. Gempa tersebut mengguncang Sukabumi, Cibeber, Cianjur, hingga Rajamandala di Bandung Barat. Dampaknya menyebabkan kerusakan parah pada permukiman dan infrastruktur. Termasuk jalur kereta api peninggalan Belanda.

BRIN juga memanfaatkan teknologi canggih untuk pemetaan yang lebih akurat. Teknologi tersebut meliputi LiDAR, drone survei, dan SLAM LiDAR. SLAM LiDAR bekerja seperti LiDAR konvensional. Namun, menggunakan laser 3D portabel. Ini memungkinkan pemetaan daerah singkapan secara detail dalam bentuk model tiga dimensi.

Putri menegaskan, penelitian Sesar Cimandiri memiliki peran strategis. Utamanya dalam upaya mitigasi bencana di Jawa Barat. Sebagai sesar aktif, Cimandiri berpotensi memicu gempa bumi. Bahkan, dapat menyebabkan tsunami lokal jika jalurnya menerus ke laut dan memicu longsoran bawah laut.

Hasil penelitian ini dapat mendukung perencanaan infrastruktur. Selain itu, menjadi dasar sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi ini penting mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan saat terjadi gempa.

Temuan riset ini juga menjadi dasar edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Edukasi meliputi potensi gempa serta langkah-langkah mitigasi. Ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Penelitian Sesar Cimandiri melibatkan kolaborasi lintas lembaga dan negara. Di dalam negeri, BRIN bekerja sama dengan ITB, BIG, BMKG, Oceanland Indonesia Group, BPBD, dan Dompet Dhuafa. Mitra internasional berasal dari The University of Edinburgh dan British Geological Survey (BGS).

Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas riset kebencanaan di Indonesia. Selain itu, mendukung penyusunan kebijakan berbasis data ilmiah. Tujuannya adalah membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap risiko geologi.

Tinggalkan komentar