KURISU NEWS – Pulau Greenland, yang belakangan menjadi pusat perhatian global karena ambisi akuisisi oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, ternyata menyimpan catatan fenomena alam yang luar biasa dahsyat. Sebuah tsunami raksasa setinggi 200 meter pernah menerjang wilayah terpencilnya pada September 2023, memicu getaran bumi yang berlangsung tak lazim selama sembilan hari penuh dan membingungkan para ilmuwan.
Ambisi Geopolitik dan Kekayaan Arktik Greenland
Greenland telah lama menjadi incaran Presiden Donald Trump, yang menyatakan niatnya untuk mengambil alih wilayah tersebut “dengan cara apa pun” sejak masa jabatan pertamanya. Ketertarikan AS terhadap Greenland bukan tanpa alasan. Pulau terbesar di dunia ini kaya akan mineral penting yang krusial bagi industri teknologi modern, di samping posisinya yang sangat strategis di kawasan Arktik. Bagi AS, kontrol atas Greenland dianggap vital untuk kepentingan pertahanan dan keamanan nasional. Namun, di balik kepentingan geopolitik tersebut, Greenland juga menghadapi tantangan iklim yang serius, yang menjadi pemicu peristiwa alam ekstrem.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Kala Tsunami Raksasa Mengguncang Dickson Fjord
Peristiwa tsunami kolosal tersebut terjadi pada September 2023 di Dickson Fjord, sebuah wilayah terpencil di timur Greenland yang jarang tersentuh sorotan dunia. Gelombang setinggi 200 meter ini dipicu oleh longsoran es berukuran masif yang jatuh ke laut. Kejadian ini, yang merupakan salah satu imbas dari peningkatan suhu global, pertama kali ditemukan secara tak sengaja oleh para peneliti yang awalnya menduga peralatan mereka mengalami kerusakan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Sinyal Misterius 9 Hari dan Penemuan Tak Terduga
Stephen Hicks, seorang peneliti dari University College of London, menceritakan bahwa sinyal yang diterima oleh alat-alat seismik mereka bukanlah gemuruh khas gempa bumi, melainkan dengungan monoton yang berlangsung selama sembilan hari. Durasi sinyal yang sangat panjang ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan seismologi. Para ahli awalnya melacak sinyal tersebut ke timur Greenland tanpa bisa menentukan lokasi spesifik. Bergabungnya peneliti dari Denmark, yang telah memiliki informasi tentang tsunami akibat tanah longsor di Dickson Fjord, menjadi kunci dalam memecahkan teka-teki ini. Penelitian komprehensif ini melibatkan 68 ilmuwan dari 15 negara selama hampir setahun, menyisir data seismik, citra satelit terkini, data lapangan, serta simulasi gelombang tsunami.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Fenomena ‘Seiche’ dan Kekuatan Gelombang Abadi
Studi mendalam mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun, gletser di dasar gunung setinggi hampir 1.200 meter di atas Dickson Fjord telah mencair dengan cepat, serupa dengan banyak gletser lain di Kutub Utara yang mengalami pemanasan ekstrem. Penipisan gletser membuat gunung menjadi tidak stabil, hingga akhirnya runtuh pada 16 September. Keruntuhan ini mengirimkan volume batu dan puing-puing setara dengan 10.000 kolam renang ukuran Olimpiade ke dalam air. Tsunami besar yang dihasilkan memicu gelombang yang terperangkap di fyord yang berkelok-kelok dan sempit selama lebih dari sepekan. Gelombang ini bergerak maju mundur setiap 90 detik, sebuah fenomena yang dikenal sebagai “seiche.” Seiche adalah gerakan berirama gelombang di ruang tertutup, mirip air yang terciprat di bak mandi, namun durasinya yang mencapai sembilan hari adalah hal yang mengejutkan. “Seandainya saya mengatakan setahun yang lalu bahwa seiche dapat bertahan selama sembilan hari, orang-orang akan menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa itu tidak mungkin,” ujar Kristian Svennevig, salah satu penulis studi. Studi ini menyimpulkan bahwa fenomena seiche inilah yang menciptakan energi seismik tak biasa di kerak bumi, menandai Greenland sebagai saksi bisu dari dampak nyata perubahan iklim global.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.
Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.