TikTok AS Diguncang Gangguan dan Kekhawatiran Sensor Usai Deal Kepemilikan

KRIS.WEB.ID – TikTok di Amerika Serikat menghadapi serangkaian gangguan operasional dan kekhawatiran sensor. Isu ini muncul hanya beberapa hari setelah platform tersebut merampungkan kesepakatan kepemilikan mayoritas oleh investor AS. Sejumlah pengguna menyuarakan keprihatinan serius terkait layanan dan moderasi konten mereka.

Selama akhir pekan, beberapa pengguna TikTok AS melaporkan kesulitan mengunggah video. Pihak TikTok menjelaskan masalah ini disebabkan pemadaman listrik di pusat data Amerika Serikat. Pemadaman tersebut memicu kegagalan sistem berjenjang. Gangguan ini mengakibatkan daftar panjang masalah teknis.

Pengguna tidak dapat mengunggah video yang berkaitan dengan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai. Unggahan tentang penembakan di Minneapolis juga mengalami kendala. Video-video ini seringkali masuk proses peninjauan. Ada pula yang mendapatkan tayangan lebih rendah dari biasanya. Beberapa pengguna menerima pesan bahwa unggahan mereka “Tidak Memenuhi Syarat Rekomendasi.” Sebagian lainnya bahkan mengalami penangguhan akun sementara.

Hingga saat ini, TikTok masih berupaya keras menyelesaikan masalah infrastruktur. Pengguna mungkin mengalami waktu muat yang lebih lambat. Permintaan pengiriman data bisa mengalami batas waktu. Jumlah tayangan atau suka pada video juga terlihat nol.

Gangguan berkelanjutan ini memicu kekhawatiran terhadap potensi sensor. Sejumlah pengguna TikTok dilaporkan mulai meninggalkan platform tersebut. Mereka beralih ke UpScrolled, aplikasi berbagi video alternatif. UpScrolled sempat mencapai posisi kedua aplikasi gratis terpopuler di App Store AS. Kini, aplikasi itu berada di peringkat delapan.

Kekhawatiran lain muncul terkait kebijakan privasi TikTok yang diperbarui. Kebijakan itu menyertakan pengumpulan “status kewarganegaraan atau imigrasi”. Informasi lokasi pengguna secara tepat juga ikut dikumpulkan. Namun, frasa serupa sudah ada dalam kebijakan privasi TikTok sebelumnya.

Usaha patungan baru, TikTok USDS Joint Venture LLC, kini dimiliki 80,1 persen oleh investor AS dan global. Investor utama meliputi Oracle, Silver Lake, dan MGX yang berbasis di Abu Dhabi. Ketiga perusahaan ini masing-masing memiliki 15 persen saham. Mereka bertindak sebagai investor pengelola dalam kesepakatan tersebut.

Pemangku kepentingan AS lainnya termasuk Dell Family Office. Afiliasi Susquehanna International Group juga turut menjadi bagian. ByteDance, perusahaan induk TikTok, tetap mempertahankan 19,9 persen saham.

Versi TikTok AS ini dioperasikan oleh dewan direksi beranganggotakan tujuh orang. Mayoritas anggota dewan berasal dari Amerika Serikat. Adam Presser, mantan kepala operasi global TikTok, kini menjabat sebagai CEO.

Berdasarkan perjanjian, usaha patungan ini bertanggung jawab atas perlindungan data AS. Mereka juga menangani moderasi konten dan keamanan algoritma. Algoritma rekomendasi TikTok sedang dilatih ulang. Pembaruan ini menggunakan data pengguna di AS. Algoritma tersebut diamankan dalam lingkungan cloud Oracle. Situasi ini dilansir dari MacRumors.

Tinggalkan komentar