Waspada Cuaca Ekstrem! Bali-NTT Siaga Hujan Lebat Akibat Bibit Badai

KURISU NEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait perkembangan Bibit Siklon Tropis 97S yang masih menunjukkan aktivitas persisten di Samudra Hindia. Sistem ini berpotensi memicu dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah krusial, mulai dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bibit 97S: Analisis Mendalam dan Potensi Dampak

Bibit Siklon Tropis 97S, yang pertama kali terdeteksi pada 16 Januari, terus bergerak secara perlahan ke arah barat daya hingga selatan, mempertahankan karakteristiknya di Samudra Hindia selatan NTT. Meskipun demikian, BMKG menyatakan bahwa potensi sistem ini untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh dalam 24 hingga 72 jam ke depan masih tergolong rendah.

Berdasarkan pantauan terkini pada 21 Januari, kecepatan angin maksimum yang terpantau di sekitar pusat sistem mencapai 15 knot atau sekitar 28 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum 1005 hektopascal (hPa). Analisis citra satelit terkini menunjukkan fluktuasi aktivitas konvektif yang signifikan, terutama di kuadran barat hingga barat laut, namun dengan jarak yang cukup jauh dari pusat sirkulasi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh vertical shear (pergeseran angin vertikal) yang sedang hingga kuat, mencapai 30 knot, yang cenderung menghambat pembentukan awan konvektif di dekat pusat.

BMKG menjelaskan, analisis angin per lapisan menunjukkan belum adanya sirkulasi yang jelas di lapisan permukaan, melainkan hanya berupa belokan angin. Pada lapisan 850 hPa, sirkulasi tampak lemah dan memanjang, sedangkan pada lapisan 700 hingga 500 hPa, sirkulasi terlihat lebih terbuka dan memanjang ke arah timur.

Di lapisan atas (200 hPa), kecepatan angin masih cenderung kuat. Faktor-faktor pendukung seperti aktifnya gelombang Low Frequency, suhu muka air laut yang hangat (29-31 derajat Celcius), vortisitas sedang-kuat, dan kelembapan udara yang basah turut memengaruhi dinamika sistem ini. Namun, adanya intrusi massa udara kering di lapisan menengah hingga atas turut mengurangi kemampuan sistem untuk membentuk awan konvektif di sekitar pusatnya.

Prakiraan Cuaca dan Kewaspadaan Tinggi di Wilayah Terdampak

Prakiraan BMKG menunjukkan bahwa dalam 24 jam ke depan, intensitas Bibit Siklon 97S diperkirakan akan tetap persisten, baik dari pola sirkulasi maupun kecepatan angin maksimumnya, dengan arah gerak perlahan ke barat-barat daya. Sementara itu, dalam rentang waktu 48 hingga 72 jam ke depan, sistem ini diprediksi akan mengalami sedikit peningkatan, dengan pola sirkulasi yang mulai terlihat di lapisan permukaan dan sirkulasi di lapisan atas yang semakin tertutup.

Meskipun potensi menjadi siklon tropis masih rendah, dampak tidak langsung yang ditimbulkan oleh Bibit Siklon 97S sangat perlu diwaspadai. Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) harus siap menghadapi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Selain itu, potensi angin kencang juga diperkirakan terjadi di NTT.

Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.

Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.

Pemantauan Dinamis dan Ancaman Gelombang Laut

Selain curah hujan tinggi dan angin kencang, Bibit Siklon 97S juga berpotensi memicu peningkatan gelombang laut di beberapa perairan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di laut atau tinggal di pesisir. Berikut adalah daftar wilayah perairan yang berpotensi mengalami gelombang tinggi:

  • Gelombang 1,25 – 2,5 meter: Laut Banda, Laut Flores, Perairan Kepulauan Kei hingga Kepulauan Aru, Perairan Kepulauan Babar, dan Kepulauan Tanimbar.
  • Gelombang 2,5 – 4 meter: Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, dan Laut Arafuru bagian barat.

Dalam konteks yang lebih luas, BMKG juga melaporkan bahwa Siklon Tropis Nokaen, yang sebelumnya berada di sekitar Laut Filipina timur laut Manila, telah mengalami penurunan intensitas dan kini berstatus sebagai Tropical Depression. Meskipun demikian, sisa-sisa pengaruh Nokaen masih dapat memicu gelombang tinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter di Samudra Pasifik utara Maluku.

Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG guna mengantisipasi risiko dan dampak yang mungkin terjadi.

Informasi terkait masih berkembang, dan kami akan memperbarui detailnya jika ada data tambahan.

Tinggalkan komentar